makes the World Wider than the Words

th3y s4y:

"Don't cut off your nose to spite your face."
Tampilan Google Zeitgeist 2010

Terbaru

Elly My Honey part 3: ELFIONI

Elly my innocent best friend. She’d never say “No” for any kind of help she could do. House-mates love Elly. Classmates love Elly. Teachers love Elly. Everybody loves Elly. Even if you meet her for the first time, you will love her surprisingly!

Elly is so lovely that she’s blessed very much. She’s not the smartest student nor the cleverest one in my class. We never imagine this wimpy girl will be graduated before 4 years studying. It sound like a miracle of a humble girl. Begitu ajaibnya hingga beraaat banget melepas Elly mengadu nasib di ibukota tepat di hari wisudanya. Bukannya cengeng, Elly is more than best-friend of mine. Aku dan beberapa teman memanggilnya ‘Kakak Pertama’.

Hari ke tigabelas bulan Maret 2011 adalah hari bahagia Elly sebagai seorang wisudawati. Persis setelah prosesi wisuda usai seonggok burung besi sudah menantinya di Bandara Juanda. I really felt time ran so damn fast! Rasanya baru kemarin kami berbagi cerita, berkeluh-kesah tentang kejamnya kota, duduk bersama di kelas TPB-14, jejingkrakan dan berfoto ria menyambut sunrise di Pantai Kenjeran, akh… It’s so hard to say goodbye that I cried.

Baca kelanjutan halaman ini »

Elly My Honey part 2: The Girl with Honest Blood

Maka dari situlah aku mengenal Elly, seorang yang lincah, lugu, spontan, dan tulus. Begitu tulusnya Elly hingga sulit baginya berkata “Tidak” untuk orang lain, termasuk jadi sukarelawan tukang ojek langganan.

Tidak ada yang tak tahu kemahiran Elly mengendarai sepeda motor. Seru! Lebih seru dari roller-coaster mana pun! Hanya mereka yang bernyali yang lolos uji emisi jadi penumpang Elly. Dina salah satunya.

I’ve told you, Elly never say “No”. Dalam keadaan capek bahkan ngantuk sekalipun, dia akan tetap mengantar Dina sesuai janjinya. Aku nggak tau — mungkin Dina juga nggak tau — apa yang dipikirkan Elly saat berkendara. Yang kami tahu, bukan sekali dua kali iya minta maaf di tempat tujuan. Eits, minta maafnya ini yang beda dari tukang ojek biasanya.

“Maaf ya Din, tadi aku tidur waktu nyetir. Aku ngwantuk poll!” kata Elly dengan tampang penuh rasa bersalah saat mereka baru saja tiba di Tunjungan Plaza, 10 km dari kampus atau 30 menit perjalanan kilat roda dua.

Baca kelanjutan halaman ini »

Elly My Honey

Disclaimer: Posting kali ini saya copy-paste dari diary-blog pribadi, ditulis nyicil jadi 3 bagian. Nggak ada maksud untuk menyinggung pihak-pihak tertentu selain Elly. Haha.. Anyway, Happy Birthday Elly My Honey!!

Have you ever met an angel? I’m sure you are not unless you’re died already. Ok, kalau manusia yang mrepet2 malaikat pernah nggak? I have!!

Well, aku punya teman dekat, Elly namanya. Sebenernya sih nggak deket-deket banget karena walau kami satu jurusan tapi nggak sekos, nggak sehobi, nggak sekegiatan, hampir nggak ada catatan sejarah yang menulis nama kami dalam satu lingkaran aktifitas. Kita pernah seasrama, satu blok. Kamarku jadi septic-tank kamarnya. Maksudnya, kamarku ada persis di bawah kamarnya.

Awal mula ketemu agak lucu dan tampangku lugu. Waktu itu aku penghuni baru asrama. Bangunan tua tiga lantai itu masih sepi, memang belum waktunya para pemuda (konon) harapan bangsa tiba. Yang ada di asrama hanya kami, mahasiswa rantau yang beruntung diterima di ITS melalui pintu PMDK atau memperoleh beasiswa dari Departemen Agama. Sebelum kegiatan perkuliahan dimulai kami harus mengikuti matrikulasi, semacam TK-nya orang kuliah gitu deh.

Satu minggu aku bolos matrikulasi karena harus pulang mengurus ijazah kelulusan. Setelah kembali ke asrama, dengan keadaan yang belum mengenal siapa-siapa, aku golek bolo, mencari penghuni yang nantinya bisa jadi teman seperjuangan.

“Fad, di sini yang anak statistik siapa ya?” tanyaku pada Fadyah, teman sekamar sekaligus nama penghuni asrama yang berhasil terekam di memori otakku yang cuma setara disket 1,44MB.

“Nggak tau, coba tanya Lilik,”

Maka kemudian ku ketuk pintu kamar tetangga. Kamar seorang jenius yang manis karena gingsulnya, Lilik. Dia menyebut nama Elly, penghuni lantai dua yang diduga mahasiswi Statistik.

Next >> Elly My Honey part 2: The Girl with Honest Blood

The bottle spins still

It’s been a year ago since we sat on red chairs

surrounding a round-glass table

and a bottle on it.

Baca kelanjutan halaman ini »

English Please?!

Peringatan: Dilarang membaca posting ini apabila Anda

  1. bukan orang Indonesia,
  2. alergi kritik,
  3. tidak bisa membaca.

Ada satu sajak megak Gemi Mohawk yang menampar otak saya hingga merasa perlu memuntahkan uneg-uneg saya  —sebelum dihipnotis Uya Kuya— ke dalam blog pribadi ini.

Bahasa Persatuan,

Bahasa Indonesia

“english please!”

Hehehe… Sadar atau tidak, lambat laun bahasa kita dijajah oleh bahasa asing terutama Bahasa Inggris. Kedengarannya memang kontradiktif dengan posting saya yang mengajak untuk serius belajar Bahasa Inggris, sebetulnya tidak. Belajar Bahasa Inggris itu harus.

Baca kelanjutan halaman ini »

The Surprise Date

Chicken Soup for the Single's Soul (Indonesia)

Chicken Soup for the Single's Soul (Indonesia)

Do you feel that Chicken Soup for The Soul makes you bored? If you do, we have same feeling. I don’t like it at all. The books of Chicken Soup for the Soul don’t have ‘conflict’ as the climax. One day I bumped into Chicken Soup for the Single’s Soul when I almost got depressed of being single and believed that love was a non-sense. Love at the first sight! The book isn’t only raise me up but also makes me believe in love. I fired up read the flat stories one by one and I over the moon. My favourite short story is The Surprise Date which is written by Rosemary Laurey. The story reminds me a quote: Boys are immature, Guys are jerks, and Men are rare. ;)

THE SURPRISE DATE by Rosemary Laurey

Ever had your grandmother set up a blind date? My friend Annie did. The nephew of her grandmother’s bridge partner called. He was in town and would Annie join him for dinner? She accepted, resigning herself to a dull evening, that is until Date arrived at her front door. Talk about hunk with horsepower! The man could have earned a decent living as a cover model, even without the Porsche. Grandma deserved a thank-you letter. Except the man drove too fast and brushed her knee every time he changed gears…but the inside of the car was cramped, and his elbow couldn’t really help bumping hers as they turned around sharp corners, could it?

Baca kelanjutan halaman ini »

Oxford, Blackberry, and seven confessions.

This slideshow requires JavaScript.

“Ya terang aja seleramu berubah, mungkin terlalu banyak gaul ama turis. Jadi hobbynya denger yang inggris-inggris, biar bingung asal british”

Terkadang saya merasa disindir oleh petikan lagu Jamrud ini. Sok British adalah satu dari banyak julukan yang paling sering saya terima setelah “PUP-Putus Urat Panik” dan “Miss Online”. Oxford dan UK memang sejumput mimpi yang sampai sekarang masih saya simpan. Entahlah, kerajaan beradab itu begitu menarik bila dibandingkan negara lain termasuk US. Tentang Oxford, mungkin terdengar muluk-muluk dan fiktif. Namun setidaknya saya berani bermimpi, memiliki sesuatu yang semakin sulit diperoleh di era gadget yang serba realistis. Baca kelanjutan halaman ini »

2010 Era Justin Bieber dan Luna Maya

Tanpa terasa, tahun 2010 segera berakhir. Berbagai instansi mulai melakukan tutup buku, mall mulai promo Year End Sale, dan (semestinya) kita sudah mulai menyusun rencana dan pencapaian baru untuk tahun 2011.

Well, menjelang tahun baru 2011 Google pun sudah tutup buku dengan Google Zeitgeist 2010. Google Zeitgeist 2010 ini merangkum kueri mesin pencarinya sepanjang tahun 2010.

Tampilan Google Zeitgeist 2010

Tampilan Google Zeitgeist 2010

Baca kelanjutan halaman ini »

Bila Pak Dalang Marah (Ndopok Karo Ki Enthus 3)

Jari kelingking si Manis Alba menunjuk angka sepuluh di pergelangan tangan kiri. Ki Enthus masih bersih diri, dan Echank undur diri sejenak. Untung mereka tidak membiarkan saya menunggu terlalu lama di lobi penginapan. Dengan kaos oblong warna hijau dan celana army-look akhirnya beliau muncul seraya sibuk telpon sana-sini.

Dari nada bicaranya, Ki Enthus sedang marah besar dengan lawan bicaranya di telepon.

“Pokoke kalau panggung tidak diturunkan 50 senti, saya nggak mau main!” katanya gusar.

 

Ki Enthus gaya kasual, masih tak lepas dari rokok

Ki Enthus gaya kasual, masih tak lepas dari rokok

Hm, nampaknya bukan berita baik. Mau tidak mau saya harus memperpanjang usus, meningkatkan kadar kesabaran menjawab SMS teman-teman yang mulai tidak nyaman di RM Bu Rudi. Katanya, di ruang VIP para pelayan melihat mereka dengan ekspresi tidak menyenangkan.

Baca kelanjutan halaman ini »

Round Table Discussion (Ndopok Karo Ki Enthus 2)

Satu jam kemudian sekitar pukul lima sore, sebuah mobil CRV putih diikuti sedan Camry hitam memasuki halaman penginapan. Semua mata tertuju padanya. Perhatian Ki Enthus yang sejak tadi terpusat pada naskah pun ikut beralih.

Seorang bapak kemudian turun dari sedan Camry bernomor polisi AD 10 YE. Melihat sosoknya, Ki Enthus spontan berdiri menyambut beliau yang tak lain adalah dalang OYE, Ki Manteb. Ki Enthus memperkenalkan kami pada beliau dan istrinya yang ternyata orang Tegal juga. Balapulang, tepatnya.

Di detik itu, baru lah tembok di muka saya runtuh. Urat malu pun kembali terkoneksi. Tak perlu menunggu lama, kami langsung pamit undur diri.

Baca kelanjutan halaman ini »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.168 pengikut lainnya.