Go Blog Tiga Tahun: Sebuah Perjalanan dari Perayaan

21 10 2009

Terbangun oleh tugas membuat slide presentasi, akhirnya saya kembali memadu cinta dengan Paqmoc, laptop saya. Browsing berita terkini, mengikuti perkembangan dunia nyata dan dunia maya (baca: blogging), rasanya malam semakin larut dan saya pun semakin mesra dengan Paqmoc. Apalagi ketika menemukan berita yang menarik untuk dikupas, semakin intim saja hubungan kami. Berita tentang Balloon Boy atau Julia Robert, perkembangan tren keyword Google, Y! Messenger, Facebook, dan lomba blog selalu memenuhi ribbon tab jendela Blackozela (nama yang saya berikan untuk browser Mozilla Firefox saya dengan sedikit appearance customizing).

Iseng-iseng, saya buka blog lama. O ya, blog ini (tikawe dot wrodpress dot com) bukan blog pertama saya. Sebelumnya sudah ada Blogsome yang saya tulis sejak Oktober 2006. Ternyata eh ternyata, sudah tiga tahun saya berlaga di dunia blog. Hm, anggap lah posting ini sebagai perayaannya sekaligus Blogger Day (21 Oktober).

Menang di Titik Awal

Posting pertama saya dipublish tanggal 19 Oktober 2006, tentang Idul Fitri yang saya rasakan tahun itu. Kalau tidak salah ingat, asbabun nuzulul-nya adalah maraknya budaya salam tempel, sementara korban gempa kurang tempelan.

Posting Pertama

Posting Pertama

Posting ini bersifat opini, karena saya memang rajin beropini. Sayangnya sekedar opini. :D Sejak kecil saya diakrabkan dengan beropini lewat tulisan. Berawal dari hadiah ulang tahun dari Bapak berupa buku diary, saya menuliskan apa yang saya alami sehari-hari sejak kelas 2 SD (baru belajar nulis, tulisan tangan masih latin gag jelas). Kronologi peristiwa, cara berpikir orang lain, dan bagaimana seharusnya peristiwa itu terjadi, hampir selalu menjadi topik perbincangan di diary. Inilah awal saya menulis, termasuk menulis opini. Kelas 2 SMP, saya dikenalkan dunia cyber oleh adik kelas, Renny namanya. Di Prima Net, saya diajari chat dengan mIRC, membuat account di Yahoo!, dan sebagainya. Dari situ kemudian saya mengeksplor sendiri belantara maya, hingga menemukan jalan setapak menuju online diary alias blog.

Menjajah Sejarah

Jawa Pos 14 Desember 2006

Jawa Pos 14 Desember 2006

Blog saya di Blogsome mencatat banyak sekali sejarah hidup saya. Bahkan, dibandingkan blog saya sekarang, tikawe dot blogsome merekam lebih banyak jejak sejarah.Posting tanggal 26 Januari 2007 mungkin akan menjadi posting yang selalu saya simpan. Meski repost, tapi posting ini merekam jejak konyol saya menjadi Juara Nasional Olimpiade Statistika. Rekaman itu berupa berita dari Jawa Pos tertanggal 14 Desember 2006 di halaman Metropolis. Sesaat setelah pengumuman, beberapa wartawan memang menculik saya. Saya ingat betul, wartawan dari Jawa Pos itu bernama Anita Rachman. Hingga kini saya masih menyimpan nomor ponsel yang ia gunakan untuk konfirmasi berita. Di titik inilah keinginan saya untuk menjelajah dunia jurnalistik bermula, meski Mbak Anita Rachman sendiri lupa dengan saya.

Dari Olimpiade Statistika, kemudian banyak suara-suara yang menilai saya berlebihan. Menganggap saya pandai, rajin, atau apalah itu yang sebetulnya bukan saya. Gelar juara saat ini tidak saya peroleh karena saya pandai. Lha wong ujian Matematika bab Statistika saja saya harus remidi berkali-kali. Itu pun saya harus puas dengan nilai 4,6 (pengakuan dosa. Hehehehe…) . Kompetisi tersebut saya ikuti lantaran rasa marah saya pada beberapa guru yang (saya rasa) teramat merendahkan saya. Rasa marah tersebut yang kemudian menjadi bensin untuk berkompetisi dan keep blogging. Posting curhatan asal-usul keikutsertaan saya adalah Murid Tiri Punya Mimpi dengan dua seri. Alhamdulillah, tulisan ini kemudian banyak menjadi inspirasi dan motivasi teman-teman yang biasa menjadi luar biasa.

Audiensi dengan Bupati Tegal dan Kadin P&K

Audiensi dengan Bupati Tegal dan Kadin P&K

Posting tanggal 16 Februari 2007, tak kalah bersejarah bagi saya. Posting ini bercerita tentang forum audiensi yang DISELENGGARAKAN oleh Bupati Tegal saat itu, Agus Riyanto. Di forum tersebut, Bupati Tegal menjanjikan penghargaan setingkat gaji Pegawai Tidak Tetap karena prestasi saya di kancah nasional. Siapa orangnya yang tidak bangga mendapat perhatian bahkan penghargaan dari Bupati. Tapi feeling saya saat itu mengatakan, “Forum ini hanya akan menjadi SEKEDAR forum, tanpa follow-up,”. Karena itulah saya langsung posting dengan kalimat terakhir: Kita liat aja realisasinya nanti, ok? Voila! Feeling saya tidak meleset. Forum tersebut memang hanya sekedar forum. Tidak ada realisasi yang saya terima hingga tulisan ini saya buat. Tapi tak apa, tidak saya permasalahkan. Hal-hal semacam ini saya rasa sudah biasa dirasakan oleh teman-teman rakyat Indonesia. Janji tinggallah janji, yang penting gue hepi! :)





Seni Berbagi dalam Kebersamaan Bani

11 10 2009

Ketika pertama kali membuka mata untuk dunia, adalah keluarga yang menerima kita.

Ada sejuta keajaiban di sana, di dalam sebuah keluarga. Keajaiban yang hangat dan selalu membuat kita nyaman, enggan meninggalkan.

Itulah yang saya rasakan di lingkaran Bani Siswoyo. Lingkaran dengan diameter sangat besar. Ketika kita memasuki lingkaran itu, segala permasalahan di kantor, tugas rumah yang menumpuk, semua terlupakan sesaat. Terlebih lagi pada momen bahagia seperti Idul Fitri.

Separuh anggota Bani Siswoyo

Bani Siswoyo, dari sinilah saya ada

Sepanjang sembilan belas Idul Fitri yang pernah saya rasakan, Idul Fitri tahun ini adalah yang paling berkesan. Mungkin karena saya sedikit bosan dengan ritual Bani di tiap tahunnya. Setiap momen lebaran tiba, selalu ada tradisi yang wajib dilakukan di Bani ini. Mulai dari memasak bersama, sungkeman, ziarah, dan sebagainya. Namun tahun ini ada yang berbeda: photo session dan family game.

Antri photo session

Antri photo session

Photo session dilakukan di halaman belakang kediaman Bu Dhe Ismi, di Jatibarang Kabupaten Brebes. Dengan latar hamparan sawah pasca panen yang menguning dan langit pagi yang membiru, kami bebas narsis. Dari photo session ini, tampak bakat leadership keluarga. Semua mengatur gaya satu dan yang lainnya. Terlalu banyak pengarah gaya. Hahaha…

Show off Manajemen Kepemimpinan ;P

Show off Manajemen Kepemimpinan ;P

Tapi itulah serunya!! Namanya juga tiyang sepuh, frame gaya yang ada di pikiran beliau terkadang masih rada jadul juga. Gaya 70-an lah. Hahaha…

Yang anak-anak, saya rasa sedang berada di mood yang salah. Semestinya pada momen berharga seperti ini mereka bisa bergenit-genit ria. Namun tampaknya peperangan ala bocah baru saja terjadi. Akhirnya ya beberapa di antaranya keep merengut. Bagaimanapun juga, photo session tetap berjalan lancar, aman, dan TETEP NARSIS karena setelah itu kita main game!!

Arman Be Te

Arman Be Te

Raisya nangis :'(

Raisya nangis :'(

Rey nangis.. :'(

Rey nangis.. :'(

Afiz Be Te :(

Afiz Be Te :(

Uli mrengut.. :(

Uli mrengut.. :(

Adik-adik, jangan ngambek mulu ya.. Bermain, yuk!!

Permainan pertama begitu menyenangkan dan seru. Anak-anak diminta memindahkan air dari sebuah ember ke botol masing-masing dengan satu gelas kecil. Betul-betul fun, momen yang dipenuhi antusiasm dan teramat disayangkan untuk dilewati begitu saja.

Uli serius menuangkan air gelas ke dalam botol

Uli serius menuangkan air gelas ke dalam botol

Bahkan Mona pun rela sedikit memaksa kakinya mengenakan sepatu Bu Dhe Ismi, karena sandalnya entah ke mana. Tidak peduli sepatu siapa, yang penting tetep eksis! Hahaha…

Mona ikut lomba dengan sepatu Bu Dhe

Mona ikut lomba dengan sepatu Bu Dhe

Permainan kemudian dilanjutkan di arena indoor, lomba kelereng. Permainan kali ini tak kalah seru, meski ada sedikit chaos ala bocah. Daud menjatuhkan sendok-kelereng di mulut Arif. Melihat tingkah adiknya, Noval marah, dan terjadilah ‘chaos ala bocah’ itu. Saat chaos terjadi, semua cuma bisa melihat dari tempat yang aman, karena amukan mereka mantab sekali. Betul-betul jagoan rupanya, sampai saya bingung bagaimana memasukkan momen tersebut ke dalam kamera butut saya. Untunglah si Bapak segera ‘tanggap darurat’ siaga 1, melerai kakak-adik yang sedang menunjukkan kemesraan mereka dengan cara berbeda. Noval dan Daud segera ditarik ke tepi arena, diberi wejangan ala Mas Opank episode Being A Wise Daddy.

Damai: (dari kiri) Fira, Daud, Arif, masih baik-baik saja

Damai: (dari kiri) Fira, Daud, Arif, masih baik-baik saja

Chaos dimulai, Mona dan Ainy hanya bisa melihat dari jarak aman

Chaos dimulai, Mona dan Ainy hanya bisa melihat dari jarak aman

Mas Pank episode Being Wise Daddy

Mas Pank episode Being Wise Daddy

That’s the art of family. Meski bertengkar, saya yakin ada rasa sayang di sana. Noval ‘menegur’ adiknya juga untuk tujuan yang tidak buruk. Dia punya cara mengingatkan adiknya untuk tidak usil. Two thumbs up, boys!!

Untuk anak-anak, masih ada satu permainan lagi. Permainan khas tujuhbelasan yang tak pernah lekang dimakan usia, MAKAN KERUPUK!

Lomba Makan Kerupuk: Kurang tinggi? Pegangan tembok saja..

Lomba Makan Kerupuk: Kurang tinggi? Pegangan tembok saja..

Kali ini pesertanya tidak hanya anak-anak, bapaknya anak-anak juga boleh ikut. Tapi.. Entahlah, lomba makan kerupuk kali ini benar-benar berbeda dari yang pernah saya lihat. Semua penonton berhak mengusik peserta, mengganggu tali rafia sehingga tali bergoyang tak karuan. Pesertanya pun tak kalah nyleneh. Beberapa di antaranya malah makan krupuk dengan tangan, tidak langsung dari krupuk yang digantung.

Tak ada mulut, tangan pun jadi?

Tak ada mulut, tangan pun jadi?

Mas Opank versi Makan Krupuk, bikin Raisya mupeng

Mas Opank versi Makan Krupuk, bikin Raisya mupeng

Papa Rey makan kerupuk

Papa Rey makan kerupuk

Mungkin Reyhan sedikit lebih fair. Dia makan krupuk dari tali, tetapi juga dibantu kedua tangannya. Lebih fair lagi, dia juga berbagi kerupuknya dengan Mona.

Rey: Kata Mama, kalau maem itu harus pake tangan dan baca bismillah dulu :)

Rey: Kata Mama, kalau maem itu harus pake tangan dan baca bismillah dulu :)

Rey: Kata Mama juga, berbagi itu baik

Rey: Kata Mama juga, berbagi itu baik

Ck ck ck.. Ya sudahlah, yang penting tetap semangat, tetap ceria, dan tetap bersama. :)

Permainan berikutnya.. Maaf, saya lupa nama permainannya. Aturan permainan ini, peserta berdiri melingkar, berhitung dari angka satu. Setiap angka 3 dan kelipatannya, peserta tidak boleh menyebutkan angka tersebut melainkan bertepuk tangan sekali.

Mbak Eci memberi instruksi untuk permainan

Mbak Eci memberi instruksi untuk permainan

Permainan ini membutuhkan kecermatan dan konsentrasi. Tak heran bila para ’sesepuh’ lebih dulu gugur. Lucunya, terkadang mereka tidak sadar melakukan kesalahan hingga peserta lain menertawakannya. Atau, kalau pun peserta sadar melakukan kesalahan dengan menyebut ‘angka terlarang’, ia akan segera menutup mulut seolah tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Om Nono: Hanya bisa tertawa atas kesalahannya

Om Nono: Hanya bisa tertawa atas kesalahannya

Bu Puji: seperti menelan kembali angka yang telah disebutkan

Bu Puji: seperti menelan kembali angka yang telah disebutkan

Tapi ya tetap saja, peserta lain selalu lebih jeli menangkap kesalahan lawan mainnya. Permainan ini murni bersifat kekeluargaan. Meskipun di luar ia seorang camat, pensiunan, manager, direktur, di lingkaran ini semuanya sama, mendapat perlakuan yang sama ketika melakukan kesalahan dalam permainan. Repotnya kalau peserta latah, mudah sekali untuk salah dan tereliminasi dari permainan.

Pak Dhe Deli: Terkaget-kaget mendapati dirinya salah

Pak Dhe Deli: Terkaget-kaget mendapati dirinya salah

Setelah satu per satu tereliminasi, tersisa tiga peserta yang harus bersaing ketat membuktikan bahwa mereka cermat dan fokus. Tiga peserta tersebut adalah generasi muda Bani Siswoyo, Mas Novit, Mbak Nana, dan Anti. Mungkin, karena Mas Novit generasi muda yang tidak terlalu muda (maaf, Mas! Hehe..) akhirnya ia pun tereliminasi, hingga tersisa Mbak Nana dan Anti.

Finalis: Mbak Nana n Anti yang bertahan di permainan terakhir

Finalis: Mbak Nana n Anti yang bertahan di permainan terakhir

Last but not least, masih ada satu permainan lagi. Yang ini khusus untuk pasutri Bani Siswoyo: tenis meja alias ping-pong.

Tenis meja Pak Dhe Bisri - Bu Dhe Nur versus Om Agung - Bu Puji

Tenis meja Pak Dhe Bisri - Bu Dhe Nur versus Om Agung - Bu Puji

Dalam pertandingan ini, kemampuan pasutri bekerjasama dan berkomunikasi betul-betul di uji. Apabila tidak terjalin kerjasama dan komunikasi yang baik, alih-alih memukul bola malah memukul istri atau suami sendiri. Nah lho!

Table tennis free style, by Om Agung

Table tennis free style, by Om Agung

Dari atas lapangan tenis meja ini tampak Bani Siswoyo dalam kemasan yang lebih orisinil. Di pertandingan tersebut terlihat siapa yang berbakat menjadi atlit tenis meja, siapa yang selalu menang tenis meja lantaran lawan mainnya karyawan sendiri (yang notabene mengalah asal bos senang), bahkan siapa yang belum pernah bermain tenis meja. Untuk kategori yang terakhir ini tidak bisa disepelekan. Kalau istri jarang bermain tenis meja, ada suami yang meng-cover. Atau misalnya suami tampil kurang prima (karena menang lawan bawahan saja), ada istri yang menjadi semangat tersendiri. Seberapa tinggi jabatan di kantor, tidak akan terlihat di arena tenis meja manakala ia tidak mampu menaklukkan lawan.

Pak Dhe Uki - Bu Dhe Khotim: saling melengkapi dan menguatkan

Pak Dhe Uki - Bu Dhe Khotim: saling melengkapi dan menguatkan

Beginilah gaya Pak Dhe Toro - Bu Dhe Las bermain tenis meja

Beginilah gaya Pak Dhe Toro - Bu Dhe Las bermain tenis meja

Pingpong Dance, ala Bu Dhe Las

Pingpong Dance, ala Bu Dhe Las

Baca entri selengkapnya »





Meninggalkan Surabaya (Jalan Pulang Part I)

20 09 2009

Akhirnya, libur lebaran datang juga. Jalan-jalan utama sudah penuh sesak sejak beberapa hari lalu. Siaran televisi sudah gencar menayangkan pantauan arus lalu lintas di berbagai titik kemacetan. Berbagai produk mulai pasang tenda bergaya rest area (padahal yang sering terjadi malah pengunjung kepanasan di dalam tenda).

Menunaikan Ngidam Di Tunjungan Plaza

Arek Genap kalo lagi 'sehat'

Arek Genap kalo lagi 'sehat'

Mau tidak mau, dengan sangat terpaksa, saya menghentikan sejenak rutinitas belajar bersama di kampus, melepas satu per satu kawan setia yang bolos demi kampung halaman. Untungnya, saya masih sempat ‘pesta’ buka bersama di Tunjungan Plaza hari Rabu malam. Berawal dari ngidamnya Ara dan Ninin pada spaghetti, jadilah saya, Ainy, Yatik, dan Elly menemani menunaikan ‘ngidam’ mereka di KFC. Ups! Acara WINDOWS SHOPPING ini sekaligus menunaikan ngidamnya Ainy pada tas laptop. Maklum, dia baru punya laptop imyutt…

Mejeng di KFC TP3

Mejeng di KFC TP3

Saat itu Tunjungan Plaza sedang banyak sale. Sayang, sale disajikan dalam angka diskon yang teramat tanggung, tidak ada banting harga. Tapi koq ya saya tetap saja tergoda dengan sale ya? Hehehe… Jadilah keesokan harinya saya dan Yatik kembali menyerbu TP. Yatik ingin membeli sebuah tas anjing (yang sebetulnya sangat kekanak-kanakan), dan saya membeli baju untuk memenuhi dress-code foto keluarga.

Dapur Desa Traditional Resto, The Burned Spot

Saya sempat mengambil gambar beberapa spot yang akan saya jadikan ‘oleh-oleh’ dari Surabaya. Spot yang dimaksud antara lain Restoran Dapur Desa yang kini beratap asbes tanpa jerami. Sebelumnya, untuk memperkental kesan desa, restoran yang bertempat di Jalan Basuki Rahmat (tidak jauh dari TP) ini menggunakan jerami sebagai atap. Namun karena panas dan teriknya Surabaya, atap restoran tradisional tersebut terbakar hingga menghanguskan dapurnya Dapur Desa.

Dapur Desa pasca kebakaran

Dapur Desa pasca kebakaran

Air Meler Dari Bambu Runcing

Monumen Bambu Runcing meler..

Monumen Bambu Runcing meler..

Spot lain yang saya rekam adalah Monumen Bambu Runcing. Bagi saya, secara kasat mata hampir tidak ada yang istimewa dari monumen yang dibangun di tengah Jalan Panglima Sudirman ini. Hanya saja, sampai sekarang saya masih heran, apa sih esensinya ada air ‘meler’ dari dalam bambu?? O ya, kenapa dibangun di Jalan PANGLIMA Sudirman, ya? Koq bukan Jendral Sudirman?? Hehehe..

Driving Cara Europe, m’Bokep’ Kemudian

Berkendara di lajur kanan Jalan Praban

Berkendara di lajur kanan Jalan Praban

Lalu lintas Jalan Praban juga menjadi spot yang saya abadikan. Sekilas mungkin tidak ada yang istimewa dari daerah ini. Namun tanpa sadar, jalan ini menyerupai jalanan di Eropa karena pengendara berada di kanan jalan, bukan kiri jalan seperti umumnya lalu lintas di Indonesia. Oleh sebab itulah, saya dan Ayah menyebut jalan ini sebagai Jalan Eropa. Tak hanya memiliki aturan lajur yang unik, Jalan Praban juga merupakan sentra gitar lokal elektrik maupun akustik. Harganya cukup ramah di kantong mahasiswa. More info, klik sini aja deh, yang lebih ngerti seluk beluk gitar di Jalan Praban.

Pajangan BF di Jalan Genteng Kali

Pajangan BF di Jalan Genteng Kali

Setelah melewati Jalan Praban, saya melintas di Jalan Genteng Kali. Begitu memasuki jalan ini, saya disuguhi pemandangan berupa papan yang ditempeli sampul film-film porno. Sungguh sangat Surabaya, di mana sex adalah sebuah rekreasi dan ciri khas. Para pedagang cukup berani memamerkan ‘katalog’ di tepi aspal, yang sebetulnya mengganggu pengguna jalan juga. Kabarnya, film porno yang dijual di sini cukup beragam, mulai dari film lokal hingga internasional sekelas Maria Ozawa.

Tak hanya film bokep (sebutan untuk blue-film di Surabaya), seniman spotlite pun berjajar di Jalan Genteng Kali. Dengan mengandalkan sepeda motor dan keahlian membuat suatu vektor, mereka menjual jasa pasang sticker spotlite. O ya, sticker spotlite adalah kertas sticker dengan warna laser yang apabila disorot lampu motor akan memantul.





Profesional Statistik, Menjalani Hobi Survey dengan Profesional

11 09 2009

SURABAYA – Ilmu statistika merupakan momok bagi sebagian mahasiswa hingga saat ini. Selain karena banyaknya rumus yang digunakan, memahami ilmu ini memang perlu ketekunan dan ketelitian lebih. Halangan inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh sekelompok mahasiswa Jurusan Statistika Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Mereka membentuk sebuah komunitas bernama Profesional Statistik atau PSt untuk membantu melakukan survey, data entry, hingga analisis data.1_113930201l

UNAIR dan UNIBRAW adalah dua perguruan tinggi yang paling sering menggunakan jasa mereka. Namun hal ini tidak berarti bahwa klien PSt terbatas hanya mahasiswa akhir semester saja, tetapi juga perusahaan-perusahaan besar. Beberapa perusahaan bahkan sudah menjadi’pelanggan’ PSt. Hard Rock FM, JTV, Sosro, Badan Narkotika Nasional, Honda, hingga Djarum selalu mempercayakan urusan penelitian dan pengembangan perusahaan mereka pada komunitas ini.

Berbeda pada komunitas pada umumnya, PSt melakukan rekrutmen terbatas pada mahasiswa Jurusan Statistika ITS saja. Namun bukan berarti semua mahasiswa di jurusan tersebut bisa menjadi anggota komunitas ini. Untuk bisa bergabung, harus mengikuti serangkaian tes untuk menguji kesungguhan melakukan survey dan pengetahuan mengenai statistika. Hal ini dikarenakan mereka tidak sekedar melaksanakan hobi namun juga menjaga profesionalisme dan kepercayaan klien yang mereka bantu.

PSt berawal dari sekelompok mahasiswa Jurusan Statistika ITS tahun 1990 yang study oriented. Anggotanya terdiri atas mahasiswa dengan IPK di atas 3,0 dengan kegiatan yang terkonsentrasi pada penelitian skala nasional. Di awal berdirinya, komunitas ini dinamakan Pro-Stat. Setelah empat tahun berjalan barulah komunitas ini diberi nama PSt dan mulai banjir proyek dari pihak luar.

“Dalam perjalanannya, PSt kemudian dijadikan sumber dana bagi Himasta (Himpunan Mahasiswa Statistika, red) dan diberi otoritas mandiri,” kenang Unung Istopo SSi, direktur pertama PSt yang kini menjadi business process analyst di Enciety.

Meski sempat vakum selama beberapa tahun, komunitas ini hidup kembali di awal pertengahan tahun 2002. Namun situasi ini hanya bertahan satu tahun. Setelah itu PSt bangkit kembali dan masih berorientasi pada akademik. Tahun 2005 format PSt mulai dirombak, tidak lagi terfokus pada teori Statistika, tapi juga praktek. Dipimpin oleh Prasetyo sebagai direktur, PSt dibentuk menyerupai miniatur perusahaan lengkap dengan direktur dan empat managernya. Departemen yang dimanageri komunitas ini adalah Human Resources Department (HRD), Operational Department, Public Relation & Marketing Department, dan Departemen Konsultasi & Pengolahan Data. Dengan perombakan tersebut, PSt mulai membuka jasa survey, data entry, dan analysis data dengan mematok tarif tertentu.

Hingga kini PSt menjadi komunitas kebanggaan Jurusan Statistika. Berbagai macam tugas lapangan sudah menjadi sarapan hal biasa bagi anggotanya.  ‘Zona kerja’ mereka tidak hanya melingkupi wilayah Surabaya. Sebagian besar wilayah Indonesia Timur pernah mereka jelajahi. Jakarta dan Kalimantan pun tak luput dari jangkauan mereka.

“Kalau survey itu enaknya bisa jalan-jalan ke luar kota, tapi dibayari perusahaan. Selain itu juga memperluas pergaulan dan link yang nantinya bermanfaat untuk di dunia kerja,” kenang Faridah Yuliani, Manager Konsultasi dan Analisis Data.

“Selain itu (survey) memperdalam ilmu statistika kita, seperti Teknik Sampling. Karena ketika survey kita tidak tahu konsep Sampling Acak atau Stratifikasi, maka data yang kita dapat kurang mewakili populasi. Kalau sudah begini, biasanya klien tidak mau (menerima hasil survey),” lanjut Faridah yang sudah dua tahun bergabung dengan PSt ini pada Radar Surabaya, Sabtu (25/7).

Honor yang diterima anggota PSt memang cukup menggiurkan untuk ukuran mahasiswa. Satu kuesioner saja mereka bisa menerima lima belas ribu hingga seratus ribu rupiah. Tak heran bila banyak mahasiswa yang tertarik bergabung di komunitas ini.

Namun dengan besarnya honor tentu terdapat tingkat kesulitan tersendiri. Zainudin, misalnya, mahasiswa Jurusan Statistika angkatan tahun 2008 ini mengaku seringkali mendapat kesulitan untuk survey model FGD, Forum Group Discussion.

“Bayarannya sangat besar, tapi nyari responden yang mau bergabung dengan acara yang diselenggarakan perusahaan klien itu sulit,” ungkap Zai.

Berbeda lagi dengan Yatimul Masfufah. Mahasiswa asal Lumajang ini mengaku kesulitan memperoleh jawaban responden yang sulit mendeskripsikan jawabannya.

“Misalnya, ketika ditanya apa beda rasa rokok A dan rokok B, mereka menjawab, ‘Yo wes ngono, Mbak. Bedo lah pokoke’. Jawaban yang sulit diprobing ini menjadikan kita tidak bisa mendeskripsikan rasa rokok seperti apa yang disukai responden,” jelas Yatimul.

Tahun ini, anggota PSt mencapai 73 orang. Namun ketika mengerjakan suatu proyek survey biasanya mereka membentuk kelompok kecil. Seperti saat ditemui Radar, mereka tengah mengerjakan data entry dari JICA Study Team. Komunitas ini tidak memiliki tempat tertentu sebagai markas. Biasanya mereka berkumpul di Taman Sigma Jurusan Statistika atau halaman Pasca Sarjana Matematika. Saat dikejar deadline survey, mereka bisa berkumpul di cafe bahkan serambi masjid.

Untuk memanfaatkan jasa komunitas ini bukanlah hal yang sulit. Cukup menghubungi sang direktur, Joni Irawan, maka tak lama klien akan menerima konfirmasi. Alur pembagian tugasnya pun tidak terlalu rumit. Setelah direktur dihubungi oleh klien dan melakukan negosiasi, selanjutnya masing-masing manager akan dihubungi untuk mengetahui anggota komunitas yang sedang menganggur. Untuk proyek luar kota biasanya diutamakan anggota yang berasal dari kota tersebut. Setelah itu anggota komunitas yang siap ‘bertualang’ menghubungi klien untuk briefing dan kemudian menjalankan hobi mereka, survey.

Sekilas, komunitas ini memang tampak seperti minatur perusahaan. Namun mereka bergabung tidak semata karena honor yang diterima tetapi juga karena kesamaan hobi yaitu survey. Tak heran bila Joni selalu disibukkan dengan telepon permintaan bantuan survey melalui nomor 085730776507. (tika)





Materi Awal Kuliah

1 09 2009

Awal kuliah semester 5 ternyata cukup merepotkan. Untung repotnya online, repot tapi seneng..

Wat ekonometrika, software Eview versi 4.1 klik di sini ya.. Tunggu yang versi 5, key?





Pengantar Teknik Simulasi

26 08 2009

PENGERTIAN

Simulasi merupakan suatu prosedur kuantitatif, yang menggambarkan sebuah sistem, dengan mengembangkan sebuah model dari sistem tersebut dan melakukan sederetan uji coba untuk memperkirakan perilaku sistem pada kurun waktu tertentu.

MENGAPA MEMPELAJARI TEKNIK SIMULASI

Simulasi umumnya dipelajari dengan harapan mampu mempelajari suatu sistem dengan memanfaatkan komputer untuk meniru (to simulate) perilaku sistem tersebut.

KLASIFIKASI SIMULASI DALAM TIGA DIMENSI

  • Model Simulasi Statik vs. Dinamik
    • Model statik: representasi sistem pada waktu tertentu. Waktu tidak berperan di sini.
      Contoh: model Monte Carlo.
    • Model dinamik: merepresentasikan sistem dalam perubahannya terhadap waktu.
      Contoh: sistem conveyor di pabrik.
  • Model Simulasi Deterministik vs. Stokastik
    • Model deterministik: tidak memiliki komponen probabilistik (random).
    • Model stokastik: memiliki komponen input random, dan menghasilkan output yang random pula.
  • Model Simulasi Kontinu vs. Diskrit
    • Model kontinu: status berubah secara kontinu terhadap waktu, mis. gerakan pesawat terbang.
    • Model diskrit: status berubah secara instan pada titik-titik waktu yang terpisah, mis. jumlah customer di bank.

REFERENSI

  1. Wikipedia Bahasa Inggris tentang Simulasi (Simulation)
  2. Metode Monte Carlo
  3. Wikipedia berbahasa Inggris tentang Computer Simulation
  4. Open Content Universitas Gunadharma tentang Simulasi dan Permodelan
  5. An Introduction to Modelling and Simulation
  6. [Download] Slide Model dan Simulasi




Belajar Mencintai Indonesia

2 08 2009

ymSaya tiba-tiba teringat (mungkin kangen juga) :) dengan seorang teman dari Bali. Saya pernah bertanya kenapa dia kuliah di Surabaya, tidak di Bali. Padahal ayahnya adalah dosen terkenal di Universitas Udayana, Bali. Jawabannya cukup simpel, tapi menarik. Katanya, kita bisa melihat rumah kita ini bagus atau tidak kalau melihat dari luar. Hm, betul juga.

Saya rasa alasan itu pun secara tidak sadar menjadi alasan mengapa saya sangat gandrung bahkan candu dengan dunia maya, khususnya chat. Sejak pertama kali kenal internet saya langsung jatuh cinta pada fitur instant messenger. Saat itu saya masih SMP, dan yang mengenalkan internet adalah adik kelas saya, Reni. Hehe, jadi malu. Masak kalah sama anak-anak. Hihihi… Waktu itu saya diajari cara membuat Y! Mail dan mIRC. Ternyata saya tidak cocok bergaul di mIRC.

Begitu banyak user yang menyebarkan link-link porno dan cam-girl. Selain itu saya agak kesulitan bergaul dengan orang asing di aplikasi ini. Karena itu saya beralih ke Y!M. Melalui Y!M, saya menjelajahi berbagai room. Dari Asia hingga Afrika, dari penghobi musik hingga homoseksual, dari kelompok pelajar hingga profesor. Mereka umumnya konsisten dengan room mereka. girl_chatting

Setiap berkenalan dengan orang baru, saya selalu menggiring pembicaraan mengenai negara masing-masing. Sebetulnya di Y!M juga banyak ‘lelaki kesepian’, tetapi ketika saya mengatakan tidak tertarik pada pornowicara, mereka mau menghargainya. Kalau mereka tidak cocok ya menghentikan perbincangan, kalau memang enjoy ya lanjut. Itulah mengapa saya lebih nyaman chat dengan orang asing daripada orang Indonesia sendiri. Orang Indonesia mah jago flirting, tapi kadang diajak ngomong isu internasional suka lola! Meski kurang nyaman dengan orang-orang Indonesia, saya justru merasa bangga sebagai orang Indonesia ketika bergabung dengan room asing. Dengan mengenal dunia luar, saya merasa semakin beruntung hidup di negara demokrasi ini.

India, misalnya. Negeri Taj Mahal ini mengalami perkembangan yang sangat pesat di bidang IT. Namun urusan penegakan hukum, payah puoll!! Seorang teman pernah bercerita, ia pernah diperkosa. Namun ia tidak berani melapor ke polisi. Kalau ia melapor ke polisi, masalah tidak akan selesai, korban malah semakin dipermalukan. Ia akan ditanyai apa warna branya, celana dalamnya, bagaimana ia diperkosa, bagian tubuh mana saja yang dijamah, bagaimana pelaku memperlakukan bagian tubuh tersebut, bahkan tak jarang polisi meminta reka ulang. It seems like..menyuruh si korban menjadi korban lagi. Hell!!

Di film Bollywood, seorang polisi memang nampak begitu berwibawa. Inspektur Vijay selalu datang tepat waktu. Hahaha… Tapi sebetulnya yang ada justru jauh dari kenyataan. Ketika Anda ditipu dan melapor ke kepolisian, kasus Anda bukannya diusut malah Anda dinilai bodoh. Mereka bahkan tak jarang menyalahkan Anda, kok yo gelem diapusi? Apalagi bila Anda seorang muslim. Muslim di India memang terpinggirkan, persis seperti yang digambarkan film Slumdog Millionaire.

Prostitusi, penipuan, dan aksi kekerasan menjadi ‘agenda harian’ di India. Menjadi wanita merdeka di sana juga tidak mudah, apalagi setelah Anda dilamar seorang saudagar kaya. Kasarnya, Anda tidak bisa menolak untuk mencium kaki suami Anda dan berbagi hati dengan wanita-wanita lain. Orang India sangat memuja bangsa barat. Masyarakat bisa memperlakukan Anda bak dewa bila wajah Anda kebarat-baratan apalagi dengan rambut blonde. Hm, tapi ada satu yang saya suka dari India, cara mereka mengucapkan ’sampai jumpa’ pada rekan sesama muslim. Orang India dan Pakistan selalu mengatakan ‘Allah hafiz’ bila hendak berpisah. Ungkapan itu seperti God Bless You.

Dari India, beralih ke negeri Paman Sam. Banyak orang memandang negara ini nyaris sempurna. Rich, educated society, hi-lite, bebas, disiplin, betul-betul nyaris sempurna. Tapi Amerika tidak seindah yang orang bayangkan. LA malam hari tidak jauh berbeda dengan Jakarta, padat dan ‘liar’. Bedanya cuma kerlip lampu brand-brand setempat yang menggantikan bintang di langit. Kebebasan di Amerika juga tidak mutlak dimiliki oleh semua warganya, terutama warga kulit hitam atau negro. Mereka menyebutnya ‘Coloured’ atau orang kulit berwarna. Beberapa juga menyebut secara sarkatis sebagai ‘Black Man American’.

Black and White memang menjadi pembeda yang sangat ekstrim di negara liberal ini. Bahkan sekalipun Anda artis atau penyanyi dan kaya raya, selama Anda tergolong coloured, maka Anda tidak bisa memperoleh hak-hak tertentu. Anda tidak bisa duduk di kursi regular apalagi VIP di bioskop. Anda tidak boleh masuk teater melalui pintu yang sama dengan orang kulit putih. Seorang laki-laki kulit hitam yang terlihat ‘jalan’ dengan perempuan kulit putih, umurnya tidak akan panjang. Ia akan dijebloskan penjara oleh sherif dan mengalami perlakuan yang tidak menyenangkan di sana.

Di wilayah pedesaan di Amerika, biasanya ada jalan-jalan tertentu yang didiami petani kulit putih. Kalau ada warga kulit berwarna melintasi jalanan tersebut, ia akan digantung dan dibakar hidup-hidup. Persis seperti film lawas The Great Debaters atau film terbaru Queen Latifa yang berjudul The Secret Life Of Bees. Masih banyak lagi negara-negara yang tidak senyaman Indonesia. Prancis dengan larangan berjilbabnya, Vietnam dengan tentara pengaman dan penjualan bayi, Swedia yang pelit senyum, dan sebagainya. Indonesia, my home sweet home.





Proud to be Wong Tegal

23 03 2009

kabupaten_tegalTegal. Mendengar nama kota yang satu ini, kita akan teringat pada beberapa hal. Teh poci, warteg, tahu aci, soto talang, sate balibul (koq makanan semua ya?), jalur pantura, jepangnya Indonesia, Ki Enthus, semua itu telah melekat erat pada kota yang terletak antara Kabupaten Brebes dan Kabupaten Pemalang. Ada satu lagi yang tak pernah lepas dari Tegal, dialeknya yang ngapak-ngapak.

Logat dan dialek Tegal sering menjadi bahan tertawaan. Bahkan Cici Tegal yang bukan orang Tegal pun menjadikannya sebagai ‘lelucon komersial’. Dengan akting menggunakan logat Tegal, dia populer sebagai Cici Tegal. Padahal ia baru pertama kali menginjakkan kaki di Tegal saat syuting sinegal (sinetron tegal) berjudul Kembang Warung Tegal. Sayang film ini kurang laku di pasaran.

Saya memang tidak berada di Tegal sejak kecil. Baru kelas empat SD saya tinggal di Tegal, tepatnya di Pangkah. Namun saya begitu jatuh cinta pada Bahasa Tegal.

locator_kabupaten_tegalHidup di lingkungan pabrik gula (PTPN) mengharuskan keluarga kami berpindah-pindah. Saya terlahir di Brebes (PG Jatibarang), kemudian pindah ke Klaten (PG Ceper Baru) setelah usia satu tahun. Saat krisis moneter melanda negeri, pabrik tempat Bapak bekerja pun ditutup sehingga beliau dipindahkan di Tegal (PG Pangkah). Di rumah, bahasa sehari-hari yang kami gunakan adalah bahasa krama. Ibu saya asli dari Brebes namun beliau melanjutkan sekolah menengah hingga diplomanya di sekolah kesenian tari di Solo, sehingga menggunakan bahasa krama bukan hal sulit baginya. Walau begitu, Ibu tetap menggunakan Bahasa Tegal bila berkomunikasi dengan keluarga besarnya. Dengan kakaknya yang lama tinggal di Jember dan Lombok, atau adiknya yang sudah lama jadi orang Jakarte, Bahasa Tegal tetap jadi bahasa utama. Tak heran bila saya pun jadi ikut mengenal Bahasa Tegal sejak kecil. Bahkan saya sering bermain tebak-tebakan dengan keponakan Bapak dengan bahasa tersebut. Kebetulan keluarga Bapak berasal dari Solo.

“Mbak, nek tiyang Tegal sanjang ‘belih lara’ artine nopo yo, Mbak?” tanya saya pada Mbak Evi.

“Belih lara? M.. Beli dua! Tuku loro!” tebak Mbak Evi.

Saya ingat betul dialog ini sejak kecil karena bermain tebak-tebakan Bahasa Tegal membuat saya bangga mengenal Bahasa Tegal. Bagi anak usia 5 tahun yang sok pintar seperti saya (saat itu), mendapat tebakan yang salah dari orang yang lebih tua tentu saja membanggakan.

“Salah, Mbak! belih niku artine mboten, lara niku artine sakit. Nah, ‘belih lara’ niku artine ‘mboten sakit’,” jawab saya penuh kemenangan.

Semakin hari saya semakin bangga dengan Bahasa Tegal, terutama setelah saya bersemedi beberapa waktu lalu. Dari hasil semedi, saya mendapat wangsit bahwa dialek Tegal adalah dialek yang paling sulit ditiru.

warungnikmatWalau tidak serius mendalami bahasa, saya termasuk orang yang sangat tertarik dengan keragaman bahasa. Sejak SD hingga SMP beberapa piala lomba membaca geguritan (puisi dalam bahasa Jawa) sering saya bawa pulang, begitu pula lomba membaca puisi. Saat SD saya juga pernah mengikuti olimpiade Bahasa Indonesia, dan itu membuat saya semakin tertarik pada dunia bahasa. Memasuki SMA, saya tergabung dalam kelas kecil piloting Dinas P dan K Jawa Tengah. Kelas itu bernama kelas immersi, kelas dengan 24 siswa terpilih dan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Selain itu saya juga tergabung dengan tim English Debate di SMA dan sempat mengisi program KGRE selama hampir tiga tahun. KGRE atau Kang Guru Radio English merupakan program berbahasa Inggris di radio seluruh Indonesia yang merupakan kerjasama pemerintah Indonesia dan Australia.  Saat kelas satu SMA, saya pun mendapatkan pelajaran Bahasa Prancis. Dari sekian pengalaman saya mengenal bahasa asing, saya simpulkan bahwa menirukan dialek bahasa asing tidak terlalu sulit. Lihat saja para ABG yang menyanyikan lagu-lagu barat, mereka terdengar fasih menyanyikannya. Yah, dalam urusan dialek atau logat, tidak jauh beda dengan penyanyinya lah.. Atau Anda bisa lihat bule-bule yang fasih berbahasa krama di daerah Jogja.soto talang

tehpociBahasa daerah tak kalah menarik bagi saya. Ketika mendapat kesempatan melancong ke Bandung, beberapa hari sebelumnya saya belajar Bahasa Sunda. Saya pelajari artikel-artikel Sundanese di internet. Setelah sampai di Bandung, saya pelajari dialek mereka. Bagaimana mereka melafalkan suku kata ‘eu’ atau menambahkan aksen ‘h’ di akhir kata (misal, kata ‘ada’ menjadi ‘adah’). Dalam dua-tiga hari berbicara dengan Bahasa Indonesia (karena vocab Sunda belum lengkap) dengan logat Sunda menjadi sangat mudah. Bahkan logat Tegal menjadi tidak kentara. Begitu pula ketika saya berkesempatan mengunjungi Pulau Dewata. Menirukan logat Surabaya juga tidak sulit. Masa matrikulasi di ITS saya gunakan untuk mempelajari boso Suroboyoan. Awalnya memang terdengar terlalu halus bagi kawan-kawan saya karena saya sering lupa mengganti kata ‘ora’ menjadi ‘gak’. Namun dalam kurun waktu kurang dari sebulan, dialek Suroboyoan sudah masuk dalam gaya bicara saya. Padahal saya perlu waktu hampir enam tahun untuk mendapat pengakuan atas logat Tegal sebab hingga kelas tiga SMP bahasa Tegal saya sering dikritik teman-teman. Sekarang, belum ada dua tahun di Surabaya, banyak kenalan yang tidak menyangka saya orang Tegal.

21888448_fb5dfd4eda_oKemudahan menyembunyikan logat dan berganti logat lain semacam ini tidak dialami oleh saya saja. Mantan bedinde Ibu yang merantau di Jakarta, Arab, Malaysia, teman-teman yang berlayar ke Kalimantan, Jepang, Amerika, kakak sepupu yang kuliah di Bandung, Jogja, Malang, Semarang, logat Tegal mereka nyaris tidak kentara. Hal ini tidak berarti bahwa mereka malu dengan dialek Tegal, namun itulah adaptasi. Saya sering membayangkan wong Tegal seperti alien dalam film Men In Black II, terutama adegan di kantor pos. Ketika berbicara dengan manusia dan menggunakan bahasa manusia, maka si tokoh diperlakukan sebagai mana manusia pada umumnya. Namun ketika tokoh tersebut berbicara dalam bahasa alien, manusia-manusia di sekitarnya mendadak menunjukkan jati diri mereka sebagai alien, kemudian berbicara dengan bahasa alien dengan gayeng. Begitu pula orang Tegal. Bila Anda mengajak bicara orang Tegal (yang merantau) dengan bahasa Indonesia, maka ia dengan fasih menjawabnya dengan Bahasa Indonesia. Namun begitu Anda bertanya dalam Bahasa Tegal, wa…asline metu!

tahu aciTulisan ini saya post tidak untuk menjatuhkan bahasa lain, melainkan wujud bangga saya pada Tegal. Hal serupa semestinya Anda rasakan juga walaupun Anda bukan orang Tegal. Kalau Anda orang Sunda, jangan hilangkan dialek Sunda Anda. Kalau Anda orang Malang, jangan lupakan dialek Malang Anda (apalagi malah berubah menjadi dialek Bali di tengah kerumunan Bonek). Kalau Anda orang Batak, banggalah dengan Bahasa Batak Anda. Betapa lucu atau kasarnya bahasa daerah Anda, itulah warisan mahal yang harus Anda jaga.(taw)





Film Wajib Untuk Cewek Dewasa (2-selesai)

1 03 2009

the duchess1Satu lagi film yang wajib ditonton oleh kaum hawa, yaitu The Duchess. Film yang diangkat dari sebuah novel berjudul Georgiana, Duchess of Devonshire ini berhasil memenangkan piala Oscar dalam kategori Costume Design. Selain menyuguhkan gaun-gaun ala bangsawan Inggris, The Duchess juga menghadirkan kisah nyata Georgiana Cavendish (Keira Knightley) yang dinikahi oleh Duke of Devonshire (Ralph Fiennes) saat usianya masih 17 tahun.

Pernikahannya ternyata tak seindah yang dibayangkan. Suaminya yang dingin dan pendiam memperlakukannya sebagai mesin pembuat anak. Tak hanya itu saja, Georgiana pun harus menghadapi kenyataan bahwa suaminya mempunyai kekuasaan hingga tak ada yang mampu menghalanginya berselingkuh dengan wanita manapun termasuk Lady Bess Foster (Hayley Atwell), sahabatnya.the duchess2

Berbagai kenyataan pahit harus dihadapi Georgiana. Tinggal satu atap dengan Bess dan tiga putranya yang mendapat limpahan perhatian dari suaminya, serta merawat seorang gadis kecil hasil hubungan pra-nikah suaminya dengan wanita lain, merupakan pil pahit kehidupan yang harus ia telan. Belum lagi kenyataan bahwa ia belum bisa memberi anak laki-laki untuk suaminya, menambah derita yang harus ditanggungnya.

Hidupnya terasa sedikit lebih indah ketika bertemu dengan Charles Grey (Dominic Cooper). Charles Grey adalah calon perdana menteri dari kota Bath yang ia bantu kampanyenya. Karisma Georgiana tentu saja sangat membantu kampenyenya dan membuat Grey jatuh hati pada Georgiana. Begitu pula dengan Georgiana. Georgiana yang mendambakan kebebasan dan kebahagiaan, kemudian menawarkan perjanjian dengan suaminya. Ia akan mengijinkan suaminya menikahi Bess asalkan ia pun diijinkan hidup bahagia dengan Grey.the_duchess_4

Suami Georgiana tak bisa begitu saja menerima hal tersebut. Ia kemudian memperkosa Georgiana. Namun justru dari pemerkosaan itu, Georgiana kemudian melahirkan anak laki-laki. Cerita belum usai. Georgiana tetap menginginkan kehidupannya dengan Grey. Duke mengancam akan memisahkan Georgiana dengan anak-anaknya dan menghancurkan karir Grey bila hal itu terjadi.

the_duchess3Georgiana yang kemudian kecanduan alkohol, kemudian mengandung anak Grey. Perjanjian itu ia kemukakan kembali. Suami Georgiana kembali mengancamnya. Namun ia pun menawarkan, bila Georgiana bertahan dengan kehidupannya sekarang dan memberikan anak tersesbut pada Grey, maka karir Grey akan semakin gemilang. Georgiana tak punya pilihan lain. Ia pun kemudian diasingkan hingga anak tersebut lahir dan dirawat oleh Grey.

Tak lama berselang, suami Georgiana menepati janjinya. Grey diangkat menjadi perdana menteri. Georgiana pun tetap tinggal bersama Bess, suaminya, dan anak-anaknya dalam satu istana.the_duchess05





Film Wajib Untuk Cewek Dewasa (1)

28 02 2009

MPAA Rating: R for some sexual references.

Dunia perfilman semakin ramai. Judul-judul baru bermunculan memenuhi jagad sinema. Sayangnya, perkembangan kuantitas perfilman belum sejalan dengan kualitasnya. Di Indonesia, film horor dengan make-up maksa serta film komedi dengan humor selangkangan pun semakin menjamur. Untunglah di antara sekian banyak film nggak mutu blaz itu masih ada beberapa film yang patut ditonton termasuk dua film yang akan diulas pada posting ini. Dua film yang dimaksud adalah Perempuan Punya Cerita dan The Duchess.

kover perempuan punya ceritaPerempuan Punya Cerita

Film ini menyajikan empat kisah perempuan di empat tempat yang berbeda: Cerita Pulau (Chant From An Island), Cerita Yogya (Chant From A Tourist Town), Cerita Cibinong (Chant From A Village), dan Cerita Jakarta (Chant From The Capital City). Cerita Pulau mengisahkan tentang Bidan Sumantri (Rieke Dyah Pitaloka) yang seorang gadis terbelakang bernama Wulan (Rachel Maryam). Sumantri yang menderita penyakit kanker payudara dengan penuh kesabaran dan ketelatenan merawat gadis manis cucu Mak Tua itu. Wulan dan Sumantri begitu dekat seperti layaknya ibu dan anak. Suatu hari, dua laki-laki kota datang ke pulau tersebut. Kerabat mereka (salah satu penduduk pulau) menawarkan keperawanan Wulan sebagai salah satu menu selamat datang. Jadilah pada suatu malam Wulan diperkosa oleh tiga laki-laki itu.perempuan02

Wulan terpukul, hati Sumantri hancur penuh dendam. Hingga pada suatu siang, suami Sumantri mendengar tiga laki-laki sedang bercengkerama di pelabuhan menceritakan pengalaman mereka bersama Wulan. Suami Sumantri yang tak sengaja mendengar itu, spontan langsung menghajar mereka. Mereka meminta maaf dengan menawarkan sejumlah uang. Sumantri dan suaminya tentu saja marah dan tidak bisa menerima penghinaan itu. Tapi Wulan adalah milik Mak Tua, bukan Sumantri. Apalagi Sumantri sedang tersandung kasus aborsi. Mak Tua tak punya pilihan lain, ia memilih menerima uang tersebut daripada membiarkan orang-orang kota itu melaporkan kasus aborsi Sumantri ke pihak berwajib.

Cerita berikutnya adalah Chant From A Tourist Town, Cerita Yogya. Berlatar kehidupan anak SMA di Yogya, cerita ini mengangkat gaya hidup yang betul-betul bebas. Hubungan pra nikah seperti menjadi suatu hal yang biasa, termasuk bagi teman-teman Safina (Kirana Larasati). Ketika temannya hamil, tidak ada yang mau bertanggung jawab karena ia sudah digilir (maaf). Berbeda dengan teman-temannya, Safina masih gadis. Dia menganggap bodoh teman-temannya yang begitu mudah menyerahkan segalanya. Namun idealisme tersebut ternyata runtuh oleh kehadiran Jay (Fauzi Baadila), wartawan yang mengaku mahasiswa Jakarta. Bersama keperawanannya, idealisme itu lenyap begitu saja oleh tatapan tajam Jay.perempuan3Jay bukan orang Yogya. Ia harus segera kembali ke Jakarta. Safina terpaksa melepas pria pertamanya. Setibanya di Jakarta, sebuah koran ibukota mengungkapkan pergaulan bebas di SMA tempat Safina bersekolah. Wartawan televisi pun berbondong-bondong mendatangi SMA tersebut. Safina melihat mereka dengan rasa malu, karena ia tahu siapa yang menyebarkan berita ini, Jay. Tak berhasil mendapatkan konfirmasi sang Kepala Sekolah, para wartawan itu kemudian mengerubuti Safina yang sedang memandangi mereka sebelumnya. “Berita ini bohong. Jay adalah pembohong. Ia berbohong pada kami, mengatakan sebagai mahasiswa Jakarta. Kenapa ndhak sekalian ditulis saja pengalaman Mas merawani saya?!” jawab Safina geram.

perempuan-punya-ceritaCerita Cibinong atau Chant From A Village adalah cerita selanjutnya. Bertutur tentang kehidupan Esih (Shanty) janda beranak satu yang bekerja sebagai cleaning service bar pinggiran. Karena tuntutan pekerjaan, hampir setiap malam Esih meninggalkan putri semata wayangnya, Maesaroh, dengan kekasihnya, Mas Darto. Suatu malam, bar digrebek satpol PP sehingga Esih harus pulang lebih awal. Sesampainya di rumah, ia mendapati kekasihnya sedang merayu Maesaroh yang masih SMP untuk memuaskan nafsu birahinya. Esih marah dan kecewa. Segera ia membawa Maesaroh pergi tanpa tujuan. Untunglah mereka kemudian ditolong Cicih (Sarah Sechan), penyanyi bar yang dikagumi Esih. Cicih yang dekat dengan Mansyur (Otto Djauhari) tak lama kemudian diajak ke kota supaya jadi penyanyi terkenal seperti Peti Pera (baca: Vetty Vera). Namun ternyata Mansyur tertarik pada Maesaroh yang lugu. Jadilah Mansyur membawa Cicih dan Maesaroh tanpa sepengetahuan Esih. Walaupun tak berpendidikan, Esih ingin anaknya tetap bersekolah setinggi-tingginya, bukan menjadi terkenal, sehingga ia berkali-kali menolak tawaran Mansyur membawa Maesaroh ke kota. Di kota, Maesaroh dan Cicih tidak menjadi penyanyi, mereka malah dijual. Bahkan Maesaroh dijual dengan harga tinggi oleh laki-laki hidung belang dari Taiwan.

perempuan4Dari empat cerita, Cerita Jakarta (Chant From The Capital City) memiliki alur dan gambar yang lebih halus. Berkisah tentang kehidupan Laksmi (Susan Bachtiar) yang tertular AIDS dari almarhum suaminya. Karena virus itu, mertua Laksmi yang dipernakan Ratna Riantiarno dan Tarzan, bersikeras membawa Belinda. Tak rela melepas putri satu-satunya, Laksmi membawa Belinda pergi dari rumah. Namun kemudian Laksmi menyadari bahwa membawa lari putrinya tidak akan menyelesaikan masalah. Akhirnya Laksmi menitipkan Belinda pada wali kelasnya lalu ia pergi bersama penyakitnya.